Peningkatan Ketahanan Pangan Melalui Pengolahan Perikanan (Balobo) di Wilayah Terluar

Jakarta, DKP Aru – Kabupaten Kepulauan Aru sebagai salah satu kabupaten tertinggal, terluar, serta memiliki penduduk miskin relative tinggi, masih  membutuhkan kepedulian dan dukungan berbagai pihak, dalam rangka meningkatkan akselerasi pengentasan kemiskinan, termasuk melalui dukungan ketahanan pangan yang merupakan salah satu Prioritas Pembangunan dibawah kepemimpinan Presiden Jokowi. Memperhatikan karakteristik wilayah kepulauan, dengan potensi pengolahan perikanan yang begitu besar disamping potensi pertanian yang seirama dengan prioritas pengembangan Pajale (Padi, Jagung dan Kedelai) dari Pemerintah Pusat, maka Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, melalui Direktorat Pengembangan Ekonomi Lokal Ditjen Pembangunan Daerah Tertinggal pada Tahun Anggaran 2017, telah mengalokasikan anggaran bagi Kabupaten Kepulauan Aru untuk 2 (dua) kegiatan, masing-masing (1) fasilitasi pengolahan perikanan dengan dukungan pembiayaan sebesar Rp.800.000.000, dan (2) Fasilitasi Alsintan Jagung dengan pagu sebesar Rp.900.000.000,-.

Terkait dengan itu, maka dalam rangka mengkomunikasikan kesiapan Kabupaten Kepulauan Aru terkait kelengkapan data pendukung kedua kegiatan tersebut, khususnya untuk kegiatan Pengolahan Perikanan, maka pada tanggal 25 April 2017, telah dilakukan konsultasi dan koordinasi antara Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Kepulauan Aru (Edwin Pattinasarany) bersama Staf (Erik Ainun Najib) di Direktorat Pengembangan Ekonomi Lokal Ditjen Pembangunan Daerah Tertinggal Kemendesa PDTT RI, di Jalan Abdul Muis, Jakarta. Pada kesempatan tersebut, Tim dari DKP Kepulauan Aru diterima langsung oleh Direktur Pengembangan Ekonomi Lokal, Bapak Muhammad Nur di Ruang Kerja Direktur. Pada kesempatan tersebut, Plt. Kepala DKP Kepulauan Aru melaporkan kesiapan DKP Kabupaten Kepulauan Aru terkait kelengkapan dokumen usulan bantuan Fasilitasi Pengembangan Ekonomi Lokal melalui pengelolaan perikanan di Tahun 2017, yang telah diakomodir oleh Kemendesa, dan mendapat respons yang positif dari Direktur Pengembangan Ekonomi Lokal Kemendesa.

Potensi perikanan yang dikelola oleh masyarakat secara tradisional cukup merata di Kabupaten Kepulauan Aru, walaupun masih dengan peralatan yang sangat tradisional. Pengolahan ikan asin (Balobo) contohnya, masih diolah dengan peralatan seadanya, mulai dari penangkapan hingga pengolahan dan pemasarannya masih tradisional.  Ikan balobo atau ikan terbang/flying fish (bentuknya sama dengan logo Ikan Terbang Indosiar), adalah sejenis ikan pelagis kecil, dengan panjang bisa mencapai 45 cm, adalah ikan yang hidup bergelombol di permukaan air hingga kedalaman 200 meter dengan kadar garam tinggi. Ikan ini olah masyarakat Aru diolah menjadi ikan asin, dan tersebar merata hamper di seluruh jasirah Kecamatan Aru Tengah Timur dan Kecamatan Aru Tengah Selatan, diantaranya Desa Longgar, Apara, Karei, Beltubur, Siya, Salarem, Gomarmeti dan beberapa desa lainnya. Ikan asin ini ditangkap nelayan dengan peralatan yang sangat sederhana, hanya berbekal perahu sampan dan jarring seadanya, kemudian hasilnya dijemur di terik matahari tanpa menggunakan pengawet maupun tanpa garam berlebihan sebagaimana ikan asin pada umumnya, dan kemudian dijual di pasar local tanpa ada kemasan yang representative.

Beberapa kendala yang ditemui oleh para nelayan yang notabene masih termasuk dalam poverty circle dalam pengolahan ikan balobo ini adalah: (1) belum adanya sarana penangkapan yang memadai; (2) teknologi pengolahan masih sangat terbatas; (3) bila musim hujan atau tidak ada panas yang cukup dari matahari, proses pengeringan akan terkendala dan berdampak pada rusaknya produk ikan Balobo; (4) belum adanya kemasan yang representative yang akan berdampak pada nilai jual dari Ikan Balobo.

Dengan keterbatasan yang ada, maka tentu akan berpengaruh terhadap nilai jual dari ikan asin tersebut. Bila ada sentuhan teknologi tepat guna serta pendampingan yang memadai, maka ikan balobo sebagai salah satu ciri khas oleh-oleh dari Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru, yang saat ini harga per kilogramnya adalah sebesar Rp.45.000 (empat puluh lima ribu rupiah) yang dijual di pasar di Dobo, atau bila dipantau pada beberapa situs online yang menjual Ikan Asin khas Aru ini dijual dengan harga Rp.75.000 sampai Rp.80.000 per kilogram, niscaya akan meningkat harganya, dan pasarnya bukan saja dijual di Dobo, tetapi akan menembus pasar regional maupun nasional. Kondisi demikian, pada gilirannya akan berdampak pada taraf ekonomi saudara-saudara kita di wilayah perbatasan dan pulau terluar.

Terkait dengan itu, maka bantuan fasilitasi pengolahan perikanan yang diusulkan oleh Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Kepulauan Aru pada kesempatan ini diarahkan untuk mendukung pasca panen dari produk perikanan pengolahan ikan asin khas Kepulauan Aru,  yang dikenal dengan ikan balobo yang diarahkan pada Desa Apara sebagai pilot project. Bantuan ini diarahkan untuk penyediaan fasilitas pengeringan ikan dan pengemasan hasil produksi, dengan tujuan untuk meningkatkan nilai jual produk. Besar harapan kami, dengan pendampingan yang rutin dari SKPD terkait, maka  produk ikan balobo akan memberikan entry point positif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Nelayan di Kabupaten Kepulauan Aru, hal mana yang menjadi salah satu concern dari visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Kepulauan Aru masa bakti 2016-2021.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *